Kasus korupsi yang tak kunjung henti, bahkan malah menjadi-jadi,
mungkin merupakan hal yang sudah tidak mustahil lagi. Karena di Indonesia ini
memiliki masyarakat yang sangat pandai dibandingkan negara-negara lain. Namun
kepandaian itu bukan terletak pada kepandaian dalam arti positif. Melainkan kepandaian dalam bersilat lidah dan
berspekulasi. Bermain katakata dan mengumpat adalah hal yang biasa dan wajar.
Atau bahkan sebuah keharusan. Satu bukti adalah banyak para koruptor yang sudah
menjadi tersangka, namun spertinya masalah tersebut tak kunjung menuai hasil.
Malah justru diperpanjang dan diotak-atik menjadi tidak jelas.
Disinilah kiranya kelemahan kita. Indonesia yang beragama sejatinya
tidak pantas memiliki umat yang demikian. Satu sisi yang sangat jelek dan
merugikan dan bahkan sangat dilarang oleh agama. Kasus yang berlarut-larut ini
merupakan bukti bahwa sebenarnya Indonesia merupakan bangsa yang tidak jujur.
Bangsa yang masih menghormati manusia-manusia yang tak hoermat dan taat. Jika
seperti ini adanya, makabagaimana mungkin kita akan maju?
Tugas kita kedepan bukanlah mencerdaskan bangsa. Akan tetapi
menjadikan bangsa ini memiliki KEJUJURAN, MORALITAS DAN RASA MALU. Tiga
pilar utama dalam kehiduppan bermasyarakat yang tak kunjung hadir ditengah-tengah
kita. Dengan memiliki sifat kejujuran, kita akan takut terhadap harta milik
orang lain yang sepatutnya kita salurkan kepada masyarakat. Dengan jujur pula,
lita akan memilki keterbukaan dan
transparasi.baik dalam hal keuangan,ataupun yang lainya. Sebagaimana
kita tahu bahwa jujur merupakan mata uang yang kan berlaku dimana-mana. Bahkan,
hanya bermodalkan jujur saja,kita dapat menembus semua belahan dunia.
Bangsa yang beradab seharusnya memilki nilai moralitas yang tinggi.
Tapi, lain halnya dengan negri kita ini yang tengah dihantui oleh kebejatan
moral. Maka tak heran jika kemudian muncul para oknum-oknum pejabat yang
berusaha memperkaya diri dengan korupsi.
Dimanakah moralitas kita? Jika ditilik sejenak mengenai sebab-sebab
korupsi maka sebenarnya ini merupakan sifat yang telah mendarah daging di
Indonesia. Mentalitas kita yang MISKIN, itulah penyebabnya. Tidak pernah
merasa cukup serta tidak peduli terhadap hak-hak orang lain juga masih menjamur
di sini. Lantas, siapa yang akan bertanggung jawab? Andalah yang tahu. Sebagai
generasi penerus, sepatutnya kita mengangkat derajat negri kita yang tengah
lantang-lantung mencari jati dirinya.
Ah, kiranya mereka memiliki rasa malu yang besar,mungkin takan
terjadi banjir korupsi yang melanda negri ini. Rasa malu yang telah hilang,
serta ajaran agam yang tak juga dijalankan juga sering menjadi pemicu kebejatan
itu. Disinilah kiranya, kita menjalankan sila pertama dari pancasila yang
termanifestasikan dalam setiap gerak dan langkah kita. Ketuhanan yang maha Esa merupakan
bukti dari perwujudan iman kita kepada sang pencipta. Konsekuensi yang harus
kita penuhi demi menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang keji.
Kiranya, Tuhan hadir dalam setiap nafar kita, kita takanpernah merasa sepi dan
lepas dari pengawasanNya. Maka, kelalaian kita merupakan bukti bahwa Tuhan
telah kita tiadakan. Lalu, jadi apakah kita nantinya???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar